Blog Tentang Artikel, Makalah, Tips, dll

FILSAFAT

Filsafat merupakan kajian dan sikap hidup yang menggambarkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kebijaksanaan.Filsafat memiliki banyak cabang-cabang filsafat seperti :logika, metodologi, metafisika, filsafat agama dll.

Suatu ilmu pengetahuan itu saling berhubungan begitu juga dengan filsafat. Filsafat dapat berinter-relasi dengan ilmu, agama, dan budaya. Untuk lebih jelasnya akan di ulas tiap-tiap bagiannya.

1. Filsafat dan ilmu

Bertrand Russel berkata bahwa “seseorang tidak mesti menjadi seorang filsuf yang lebih baik dengan jalan mengetahui fakta-fakta ilmiah yang lebih banyak ; asas-asas serta metode-metode dan pengertian-pengertian yang umumlah yang harus ia pelajari dari ilmu jika ia tertarik kepada filsafat” .

Dari perkataan Bertrand tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa adanya inter relasi antara ilmu dan filsafat. Hasil-hasil dari ilmu modern sangatlah penting bagi seorang filsuf sebab perenungan kefilsafatan berusaha menyusun pandangan dunia secara sistematis. Apa yang dihasilkan oleh manusia dapat bermula dari pemikiran filsafat. Ilmu dalam usahanya membuka rahasia alam harus mengetahui anggapan filsafat mengenai alam.

Kefilsafatan itu tidak berbahaya tetapi yang berbahaya kefilsafatan yang tidak dikenal dan tidak dianalisa. Filsafat mempersoalkan istilah-istilah terpokok dari ilmu dengan suatu cara yang berada diluar tujuan dan metode ilmu.

Jadi secara garis besar hubungan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan dapat di rumuskan sebagai berikut :

a) Filsafat mempunyai obyek lebih luas, sifatnya universal (universal science), sedangkan ilmu- ilmu pengetahuan obyeknya terbatas.

b) Filsafat hendak memberikan pengetahuan, pemahaman yang lebih mendalam dengan menunjukkan sebab-sebab yang terakhir, sedang ilmu pengetahuan juga menunjukkan sebab-sebab, tetapi yang tak begitu mendalam.

c) Filsafat memberikan syntgesis pada ilmu-ilmu pengetahuan yang khusus, mempersatukan dan mengkoordinasikan.

d) Lapangan filsafat sama dengan lapangan ilmu pengetahuan, tetapi sudut pandangnya berbeda.

Keduanya penting dan perlu serta kedunya saling melengkapi. Tetepi harus pula saling menghormati dan mengakui batas-batas dan sifat-sifatnya masing-masing.

2. Filsafat dan agama

Agama dan filsafat memainkan peran yang mendasar dan fundamental dalam sejarah dan kehidupan manusia. Selain menaruh filsafat sebagai sumber pengetahuan, Barat juga menjadikan agama sebagai pedoman hidup. Hubungan filsafat dan agama di Barat telah terjadi sejak periode Yunani Klasik, pertengahan, modern, dan kontemporer, meskipun harus diakui bahwa hubungan keduanya mengalami pasang surut. Dewasa ini di Barat terdapat kecenderungan yang demikian kuat terhadap peranan agama. Masyarakat modern yang rasionalistik, vitalistik, dan materialistik, ternyata hampa spiritual, sehingga mulai menengok dunia Timur yang kaya nilai-nilai spiritual

Kalau dilihat melaui sudut pandang islam maka hubungan anatar filsafat dan agama yaitu sangat erat hubungannya. Al quraan mengatakan bahwa sarana yang digunakan dalam mempelajari objek yakni akal dan objek yang diperintahkan untuk dipelajari yaitu yang bersifat realitas secara menyeluruh. Ayat-ayat yang menerangkan itu antaranya “maka berpikirlah wahai orang-orang yang berakal dan berbudi. Disini dapat kita katakan bahwa Al Quraan memandang positif hubungan antara filsafat dan agama.

Kerja akal disebut berfilsafat jika dalam memakainya seseorang menggunakan metode berpikir yang memenuhi syarat-syarat pemikiran logis . Kebenaran tidak akan berlawanan dengan kebenaran sehingga jika pemikiran akal (sebagai sumber asasi filsafat) dan Al Quraan (sebagai sumber asasi agama) tidak membawa pertentangan maka itu merupakan suatu kebenaran.

Mengenai dikotomi agama dan filsafat serta hubungan antara keduanya para pemikir terpecah dalam tiga kelompok: kelompok pertama, berpandangan bahwa antara keduanya terdapat hubungan keharmonisan dan tidak ada pertentangan sama sekali. Kelompok kedua, memandang bahwa filsafat itu bertolak belakang dengan agama dan tidak ada kesesuaiannya sama sekali. Kelompok ketiga, yang cenderung moderat ini, substansi gagasannya adalah bahwa pada sebagian perkara dan persoalan terdapat keharmonisan antara agama dan filsafat dimana kaidah-kaidah filsafat dapat diaplikasikan untuk memahami, menafsirkan dan menakwilkan ajaran agama.

Sangat penting untuk digaris bawahi bahwa yang dimaksud filsafat dalam makalah ini adalah metafisika (mâ ba'd ath-thabî'ah). Jadi subyek pengkajian kita adalah hubungan antara agama dan metafisika, namun metafisika menurut perspektif para filosof Islam.

Sebelumnya telah disinggung bahwa sebagian pemikir Islam memandang bahwa antara agama dan filsafat terdapat keharmonisan. Sekitar abad ketiga dan keempat hijriah, filsafat di dunia Islam mengalami perkembangan yang cukup pesat, Abu Yazid Balkhi, salah seorang filosof dan teolog Islam, mengungkapkan hubungan antara agama dan filsafat, berkata, "Syariat (baca: agama) adalah filsafat mayor dan filosof hakiki adalah orang yang mengamalkan ajaran-ajaran syariat." Ia yakin bahwa filsafat merupakan ilmu dan obat yang paling ampuh untuk menyembuhkan segala penyakit kemanusiaan

3. Filsafat dan budaya

Budaya berasal dari bahasa Sansekerta Budhayah. Kata ini berasal dari dua kata yaitu budi dan daya. Budi artinya : akal, tabiat, watak, akhlak, perangai, kebaikan, daya upaya, kecerdikan untuk pemecahan masalah. Sedangkan daya : berarti kekuatan, tenaga, pengaruh, jalan, cara, muslihat.

Dalam bahasa Arab, kata yang dipakai untuk kebudayaan adalah : al-Hadlarah, as Tsaqafiyah/Tsaaqafah yang artinya juga peradaban. Kata lain yang digunakan untuk menunjuk kata kebudayaan adalah : Culture (Inggris), Kultuur (Jerman), Cultuur(Belanda).

Secara istilah, banyak pengertian tentang kebudayaan diantaranya :

1. Kebudayaan adalah cara berfikir dan cara merasa yang menyatakan diri dalam keseluruhan segi kehidupan dari segolongan manusia yang membentuk kesatuan sosial dalam suatu ruang dan waktu.

2. Aspek ekspresi simbolik prilaku manusia atau makna bersama yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari sehingga menjadi konsesus dan karenanya mengabaikan konflik.

3. Kondisi kehidupan biasa yang melebihi dari yang diperlukan.(Ibnu Chaldun)

4. Bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu masyarakat, struktur intuitif yang mengandung nilai-nilai rahaniah tinggi yang menggerakkan masyarakat atau hasanah historis yang terefleksikan dalam nilai yang menggariskan bagi kehidupan suatu tujuan ideal dan makna rahaniyah yang jauh dari kontradiksi ruang dan waktu.

Maka kebudayaan adalah satu sikap batin, sifat dari jiwa manusia, yaitu usaha untuk mempertahankan hakikat dan kebebasannya sebagai makhluk yang membuat hidup ini lebih indah dan mulia. Maka membutuhkan filosofis dan ilmiah berbagai sifat normative dan pedoman pelaksanaanya.Hal itu sejalan dengan pemikiran filsafat yaitu senantiasa untuk memikirkan hakekat tentang sesuatu. Sehingga kita dapat mengambil kesimpulan bahwa filsafat dapat berinter-relasi dengan budaya.


DAFTAR PUSTAKA


Louis A. Katsof (penerjemah Soejono Soekamto), 2004, Pengantar filsafat,Yogyakarta:Tiara Wacana Yogya

Ibnu Rusyid, Falasafah Ibnu Rusyid: Fasl Maqal wa Al-Kasyf an Manahij Adilah. Di terjemahkan Aksin Wijaya,2005, Mendamaikan agama dan filsafat : kritik epistemology dikotomi ilmu, Yogyakarta:Tsawrah Institute Ponorogo dan Pilar Religia kelompok pilar media

Imam Syatibi, Hubungan Agama dan Filsafat di Barat, http://bakuljangan.wordpress.com/, diakses pada tanggal 25 Februari 2009


Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Makalah dengan judul FILSAFAT. Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://tulisendw.blogspot.com/2009/06/silogisme.html. Terima kasih!
.::Artikel Menarik Lainnya::.