Blog Tentang Artikel, Makalah, Tips, dll

MENJADI KAYA ADALAH PILIHAN

Pada dekade 80-an saya mulai mengetahui betapa pentingnya memiliki uang. Era ketika orang mulai jatuh cinta pada uang. Saat itu kemakmuran nyaris diraih negeri ini, bangsa kita tidak lagi memasang alarm siaga satu untuk bahaya kelaparan.

Dampak rezeki oil booming yang menggemukkan anggaran negara pada pertengahan dekade 70-an memang mampu menciptakan lapangan kerja yang cukup basah pada departemen-departemen pemerintah serta BUMN. Sektor bisnis swasta pun ikut tumbuh pada saat itu, apalagi dipicu oleh paket-paket deregulasi perbankan di Indonesia serta pada tataran global didorong oleh kemenangan kapitalisme dan sistem perekonomian terbuka atas sosialis komunis dan sitem perekonomian tertutupnya, yang ditandai dengnan hancurnya kekuatan Unisovyet dan puncaknya diwarnai oleh runtuhnya Tembok Berlin. Saat itu seakan-akan semua orang di seluruh dunia berteriak: HIDUP UANG!

Memang pada kenyataan selanjutnya uang telah menjelma menjadi diktator baru, yang kehadirannya begitu samar, namun kekuasaannya begitu dominan. Apalagi krisis moneter yang melanda negeri ini memberi pelajaran, bagaimana pentingnya orang memiliki uang. Uang begitu menarik, karena dengan uang orang orang dapat membeli apa saja; kehormatan, kekuasaan, keadilan, martabat-bahkan uang itu sendiri, tentu dalam jumlah yang lebih besar. Uang telah menjadi magnet tempat semua kepentingan. Akhirnya uang menjelma sebagai daya tarik segala aspek kehidupan. Karenanya tak usah heran bila orang kaya (entah penguasa atau pengusaha) dipuja di mana-mana. Kepintaran seolah dianggap tidak berguna bila tidak bisa menghasilkan uang. Sehingga bukan sesuatu yang lacur bila kebanyakan pemuda-pemudi negeri ini sangat bernafsu untuk menjadi orang kaya.


Berbisnis Untuk Kaya

Banyak cara untuk menjadi kaya; menang lotere, mencari mertua konglomerat, minta bantuan paranormal untuk menggali harta karun nenek moyang. Namun semua itu probabilitasnya terlalu kecil kalau tidak peninggalan bisa dibilang nol. Cara ini juga jauh dari pikiran normal dan akal sehat. Maka cara paling mungkin adalah berbisnis. Namun dunia bisnis menjadi sebuah jalan terjal berliku. Ia penuh tantangan dan resiko, tetapi juga memiliki daya tarik, ia menjanjikan keamanan finansial dan independensi di banyak hal. Namun bisnis adalah rimba yang kejam bagi siapa pun yang tidak mengenal medan.

Robert T. Kiyosaki bersama Sharon L. Lechter dalam bukunya Rich Dad Poor Dad Foor Teens telah banyak membeberkan tentang bagaimana orang bisa memiliki kecerdasan finansial. Buku ini memang memberi pelajaran praktis tentang bagaimana cara berinfestasi dan mendapatkan uang secara legal.

sebagai dua orang ayah, ayah yang satu kaya (Rich Dad), yang lainnya miskin (Poor Dad). Rich Dad digambarkan sebagai wirausahawan dan investor, sedangkan poor dad digambarkan sebagai seorang birokrat yang bekerja pada pemerintah. Ia juga secara rinci membeberkan bagaimana Rish Dad sukses menjadi orang kaya yang terbebas secara finansial .yang mesti ditempuh untuk menghasilkan uang, bagaimana orang harus giat bekerja, bagaiman uang bekerja sehingga menghasilkan uang dalam jumlah yang lebih banyak, bagaimana mengelola arus kas, bagaiman orang harus mendapatkan pelajaran-pelajaran dalam pekerjaannya, bagaimana mengelola arus kas, tentang aset dan liabilitas. Sehingga puncaknya orang memperoleh kebebasan finansial. Sungguh fantastis dan dramatis.

Di negeri ini juga bisa mendapatkan kekayaan secara fantastis dan dramatis, namun sangat sulit untuk mengikuti alur pikiran Kiyosaki. Biarlah buku best seller Kiyosaki menjadi primbon di negeri tetangga atau orang-orang nun jauh di Amerika atau Eropa sana. Di negeri ini untuk menjadi kaya tidak perlu paham hakikat tentang uang, cara menjadi kaya dan hakikat bisnis. Sebab ada pelajaran praktis yang nyaris mewakili realitas negeri ini. Untuk menjadi kaya orang tidak harus menjadi usahawan dan investor. Jadi birokrat atau politisi pun justru bisa lebih cepat mendapatkan kekayaan. Ada tiga macam aset non finansial yang sangat bisa diandalkan untuk mendapatkan kekayaan, yakni; Kekuasaan, Patronase dan Cara Berfikir.


1. Kekuasaan.

Memiliki kekuasaan di tangan, berarti memiliki tiket untuk berada pada jalur cepat (fast track) menjadi kaya. Maka siapapun yang bisa memainkan perannya secara flamboyan akan cepat mendapatkan kekayaan yang diidam-idamkan. Jika menjadi birokrat atau politisi jangan gampang menerima fee atau uang sogokan yang terlalu kecil, atau yang diberikan secara fulgar. Masih banyak cara yang elegan untuk bermain di wilayah abu-abu (grey area) dengan hasil nominal yang jauh lebih besar. Kekuasaan dianggap efektif bilamana mampu memudahkan untuk medapat segala keinginan. Dan kekuasaan adalah bukan kekuasaan bilamana ia tidak menghasilkan apa-apa. Karena pada dasarnya kekuasaan hanyalah power yang artifisial bila mana ia hanya menimpakan beban di bundak.

Namun jangan pula tampilkan kesan bahwa anda adalah sebagai pemburu fasilitas, tunjukkan saja kepada mereka bahwa kau bekerja keras untuk kepentingan publik, karena kau harus ingat, bahwa kau menghadapi publik- walaupun kau tidak bertanggung jawab langsung kepada mereka. Jangan korbankan harga dirimu demi fasilitas murahan, itu kampungan. Jadi kalau ada yang perlu dikejar mati-matian hanyalah satu hal, yaitu: akses. Dalam hal ini adalah akses terhadap sumber-sumber keuangan negara. Fokus perhatian pada pengeluaran pemerintah, karena di sanalah banyak orang yang bisa menggali kekayaannya. Apalagi bila seseorang (penguasa) mendapatkan kewenangan untuk mengalokasikan pengeluaran negara. Tentu saja untuk berbagai macam kepentingan pemerintah. Dan pemerintah adalah konsumen yang sama sekali tidak kritis. Ia malah dengan senang hati membiarkan dirinya sendiri diperdayai oleh para penjual. Sebab bila ia tidak mau membiarkan diperdayai, orang-orang pemerintah tentu tidak bakalan mendapatkan apa-apa. Karenanya kekuasaan dalam birokrasi bagi para pemburu harta itu sangat eksotis, sehingga menjadi incaran banyak orang. Selain itu menjadi birokrat atau politisi, orang juga dapat memiliki kekuasaan secara de facto, dengan mengendalikan orang-orang yang ada dalam struktur. Tergantung dengan pihak mana yang dipilih yang dianggap strategis. Kebanyakan mereka kooperatif dan tidak memiliki ego, sejauh kita memiliki kemampuan untuk mengalirkan air liur mereka ketika melihat angka-angka nominal yang ditawarkan. Mereka cukup akseptabel untuk menjalin kerjasama terutama yang saling menguntungkan.



2. Patronase dan Networking

Patron erat kaitannya dengan kekuasaan, sebab orang akan sulit mendapatkan kekuasaan tanpa patronase. Dalam banyak hal patron berfungsi sebagai backing. Patron juga membuat kekuasaan yang ada di tangan menjadi lebih efektif. Dia akan memberi pembelaan, pemihakan dan dukungan bilaman diperlukan. Ia juga dapat berfungsi sebagai mesin kerja yang sangat efektif.

Banyak cara untuk mendapatkan patron. Cara yang paling efektif adalah menyatukan visi dan misi dari sudut pandang pribadi. Sang patron tentu memiliki hal-hal yang bersifat pribadi. Misalnya kita bisa membantu untuk pencapaian obsesi tertentu mereka. Bila kita dapat membantunya tentu mereka akan dengan senang hati membantu kita. Meskipun demikian, tidak ada jaminan bahwa patron kita akan tetap loyal terhadap kepentingan-kepentingan kita. Maka sanngat strategis bila memiliki beberapa patron daripada hanya bergantung pada satu patron. Ingat sebuah adagium politik; tak ada kawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan. Oleh karenanya usahakan tetap selalu pada jalur kepantingan yang sama. Sebab bila muncul konflik kepentingan, ikatan patronase itu akan buyar dengan sendirinya. Dan satu sama lain akan saling kehilangan dukungan.

Untuk mendapatkan patron yang potensial sangat dibutuhkan jaringan kerja (networking) yang luas. Networking memberikan banyak pilihan kepada siapa kita melakukan patronase. Ia dapat dilakukan secara personal maupun kelembagaan. Baik personal dengan personal, personal dengan lembaga atau lembaga dengan lembaga. Ia adalah bagian dari kekuatan tawar (bargaianing power) kita.

3. Cara Berfikir dan Bertindak yang sesuai.

Ini adalah aset yang paling penting secara internal. Maksudnya dari dalam diri seseorang. Ia harus terlebih dahulu memodifikasi cara berfikir, menyesuaikan nilai-nilai moral, sebelum berjuang untuk mendapatkan kekayaannya. Tanpa itu akan sulit merasionalisasi tindakan-tindakannya. Sebab sistem di negara ini memaksa kita untuk mengikuti rule of thumb yang ada. Kita dihadapkan dua pilihan yang saling meniadakan (mutually exclusive).

Seolah seperti tentara yang hanya dihadapkan dua pilihan; membunuh atau dibunuh. Mereka yang nuraninya terlalu lemah, seringkali tenggelam dalam keragu-raguan ketiga hendak membidik musuh. Padahal keragu-raguan itu justru bisa membunuhnya. Oleh karenanya jangan pernah ragu, bertindaklah cepat dan tepat. Jangan menyalahkan diri sendiri, sebab siapapun akan takluk pada situasi seperti itu.

Kalau memang susngguh-sungguh ingin menjadi kaya, sesuaikan cara berfikir dengan lingkungan yang mengelilingi. Jangan pernah bikin kriteria moral sendiri. Sebab bila melawan arus, akan membuat anda tenggelam, karena arus itu begitu deras.

Cara berpikir akan menentukan apakah seseorang dapat memperoleh aset pertama (kekuasaan) dan Aset kedua (Patronase dan Networking) yang tepat. Dengan ini pula orang dapat menetukan rencana tindakan (action plan) dan menentukan dengan cara bagaiamana mereka akan bertindak.

Cara berpikir juga menentukan pilihan seseorang. Pilihan berbisnis dan terus terobsesi menjadi interpreneur menjanjikan akselerasi yang lebih cepat untuk menjadi kaya.

Memang. Banyak orang bilang, bisnis itu kotor. Itu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Seperti halnya politik, bisnis memang dekat dengan trik dan manipulasi. Tetapi itu sudah diterima sebagai realitas, sehingga sulit bagi kita untuk bermain dengan cara lain. Terasa konyol kalau kita mau keluar dari mainstream.



Demikian ini karena kita belum memiliki sense of justice, karena kadang-kadang orang menjadi bangga karena mendapat kekayaan dengan jalan pintas dengan cara melanggar hukum. Bila tujuan utama anda dalam bekerja adalah uang semata. Tanpa melihat hakikat apa itu uang, apa itu bisnis dan apa tujuannya?. Justru ketika uangnya sudah mendanau ia akan bertanya untuk apa semua ini? Kalau tujuan bisnis adalah uang semata, anda akan kecewa dan terjebak pada kerangkeng ketamakan dan ambisi yang tak pernah sampai. Itu cenderung menghalakan segala cara. Seolah mereka tidak punya pilihan lain.


Doing Business is not to have something

Kalau kita mau jujur dan bersabar sebenarnya masih banyak cara berbisnis yang lebih imani. Bisnis merupakan tindakan suci, sepanjang dilandasi oleh nurani agama dan berupaya sekuat tenaga menghindar dari ancaman-ancaman riba.

Berbisnis bukanlah sekedar upaya untuk memperoleh sesuatu, nisalnya kekayaan ataupun kekuasaan, tetapi untu melakukan sesuatu. Doing business is not to have something, but to do something.

Ada beberapa pelajaran yang harus dipegang untuk menjalani bisniss yang sesungguhnya:

1. Tujuan berbisnis dan cita-cita menjadi kaya

Boleh saja orang secara pribadi menjadi kaya. Boleh saja ada yang ingin memiliki 100 mobil mewah, sebab ini bukanlah negara komunis. Menjadi kaya bukanlah aib atau dosa. Keinginan menjadi kaya justru bisa dijadikan motivasi. Tetapi dalam melakukan bisnis janganlah berorientasi pada profit semata. Itu membuat anda terjebak pada hitungan-hitungan rumit mengenai margin laba. Itu membuat orang lupa berhitung pada aspek yang lain yang mestinya lebih substansial, misalnya cocok tidak ia dengan karakter bisnis yang ia geluti, sebab banyak orang yang gagal di tengah jalan lantaran tidak mencintai bisnis yang sudah lama ia tekuni.

Ia tidak menikmati proses pasang surat usahanya lantaran hanya berorientasi pada profit. Itu membuatnya musah putus asa.

Bisnis harus dilandasi oleh panggilan hati yang suci. Itu akan menjaga kita agar selalu on the right track. Yang terpenting adalah memaksimalkan diri agar bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Dalam berbisnis harus tumbuh keyakinan bahwa ujung dari semua usaha bukanlah uang semata.

Jangan terlalu berfokus pada profit atau peluang keuntungan, tetapi pada apa yang bisa dikerjakan. Atau memberi nilai tambah pada produk yang anda hasilkan, agar kepuasan konsumen bertambah, buat rancangan struktur biaya, kendalikan proses agar bisnis ini tetap efisien. Hadapi persaingan dengan pikiran terbuka, cerdas dan kreatif. Barulah mendapatkan imbalan dari hasil kerja kita. Pada dasarnya keuntungan adalah sebagai konsekwensi logis dari apa yang kita rencanakan dan kita lakukan. Siapa yang lebih siap tentu akan memenangkan persaingan bisnis.

2. Uang adalah Alat Tukar Tidak Kurang Tidak Lebih.

Uang memang sangat penting bagi bisnis apapun. Uang ibarat darah bagi manusia atau bahan bakar bagi kendaraan bermotor. Tanpa uang roda bisnis tidak akan berputar. Tapi terlalu berorientasi pada uang akan membuat jalan pikiran dan cara bertindak kita terdistorsi. Ingatlah selalu, uang adalah konsekwensi dari apa yang kita perbuat, sedang kekayaan adalah konsekwensi dari cara kita mengelola uang. Uang sebagai alat tukar, memang memiliki fungsi sebagai penyimpan nilai (store of value), namun bagi pelaku bisnis sejati, uang adalah alat transaksi, tidak kurang tidak lebih. Kelebihan saldo kas (over likuid) justru merupakan situasi yang tidak produktif. Sebab sumber dana yang tidak terpakai menimbulkan ongkos. Kita boleh melipatgandakan uang dan membuatnya produktif, dengan cara-cara yang benar menurut hukum dan etika. Hargailah uangmu dengan cara memakainya secara bijak dengan tidak membelanjakannya secara sembrono. Hormatilah uang dengan menempatkannya di lahan-lahan yang subur, agar ia dapat berkembang dengan baik. Dengan mempertimbangkan aspek utilitas yang maksimal bagi diri sendiri atau orang-orang di sekeliling kita. Lihatlah dari segi manfaatnya. Uang bukanlah tujuan melainkan alat untuk mencapai tujuan. Kalau uang membuat serakah, maka uang telah berubah menjadi berhala.

3. Menjadi Kaya adalah Salah Satu Pilihan Hidup

Benarkah anda pengin menjadi kaya? Benarkah anda bercita-cita menjadi seorang milyarder sehingga bisa bebas secara finansial? Kalau benar, berarti anda telah menentukan suatu pilihan. Ingin menjadi kaya adalah suatu cita-cita yang baik, sebab dengan kekayaan yang dimilikinya orang bisa bertanggungjawab penuh terhadap dirinya sendiri, juga bagi lingkungannya. Paling tidak ia tidak menjadi beban bagi lingkungan sosialnya, bagi sanak saudaranya juga bagi negara.

Akan tetapi, perlu disadari bahwa setiap pilihan ada konsekwensinya. Tdak ada sesuatu yang gratis tentunya. Surgapun harus didapat melalui ketaqwaan. Banyak yang harus dikorbankan untuk meraihnya. Terutama pengorbanan waktu, upaya keras untuk mendisiplinkan diri serta kemauan bulat untuk menepis semua godaan. Karena suatu pilihan ada harga yang harus dibayar, ada trade off yang harus diperhitungkan. Pertimbangkan secara proporsional. Jangan mengorbankan ketenangan jiwamu.

4. Kembangkan Hubungan Saling Menguntungkan

Hubungan merupakan persoalan serius dalam bisnis. Hubungan yang baik akan menghasilkan pada hoki dan keberuntungan. Hubungan yang buruk akan menutup rizki dan kepercayan.

Ingat pemeo klasik, bahwa modal utama berbisnis adalah kepercayan. Seorang pemula bisnis harus berjuang mati-matian agar kredibelatasnya diakui oleh rekan bisnisnya. Kalau orang sudah mendapatkan kepercayaan, tidaklah sulit baginya untuk mencari investor, mendatangkan order, mendapatkan bahan baku, mendapatkan pinjaman bahkan dapat memberekan segudang persoalan teknis.

Untuk mewujudkan kepercayan, tentu mudah bila dimulai kuatnya komitmen dari suatu hubungan. Tentu saja yang saling menguntungkan.

5. Keuntungan dan Resiko Senantiasa Proporsional

Untung dan rugi dalam berbisnis adalah sesuatu yang lazim. Profit atau keuntungan adalah sesuatu yang diidam-idamkan oleh setiap pebisnis atau investor, sementara kerugian adalah suatu resiko yang sedapat mungkin dihindari. Antara untung dan rugi senantiasa berjalan pararel. Untung besar senantiasa diikuti resiko kerugian yang probabilitasnya sama besar. Maka perlu diwaspadai, banyak pebisnis yang mabok untung besar tanpa mewaspadai bahaya resiko yang mengikutinya, akhirnya terjebak pada jurang kerugian yang menyakitkan.

Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Artikel dengan judul MENJADI KAYA ADALAH PILIHAN. Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://tulisendw.blogspot.com/2010/02/menjadi-kaya-adalah-pilihan_4139.html. Terima kasih!
.::Artikel Menarik Lainnya::.