Blog Tentang Artikel, Makalah, Tips, dll

Merangkai "HAKEKAT" Kepemimpinan

Merangkai “Hakekat” Kepemimpinan
Oleh : Hamim Salam Zaqi


Dalam sebulan terakhir ini, tidak ada hal yang menarik dalam masyarakat selain wacana kenaikan harga BBM, yang mana terjadi luapan ekpresi masyarakat untuk penolakan adanya kenaikan BBM tersebut. Mulai aksi turun jalan (demo), mogok kerja, seminar, pemasangan spanduk dan lain sebagainya. Dengan dalih penyelamatan APBN, pemerintah membuat kebijakan yang tidak populis. Karena fluktuasi ekonomi makro-lah, kepemimpinan SBY-Kalla sedang dalam ujian. Mensikapi kebijakan pemerintah, sebagian masyarakat telah menyampaikan mosi tidak percaya dan mendelegitimasi kepemimpinan SBY-Kalla. Benarkah bangsa kita dilanda krisis kepemimpinan “kepercayaan” ?
Persoalan kepemimpinan selalu menjadi perbincangan dan kajian menarik, yang tiada hentinya, karena merupakan hal yang esensial dan substansial dalam hidup dan kehidupan sepanjang hayat manusia. Pun dalam organisasi semisal Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), kepemimpinan juga menjadi isu yang menarik setiap kali datang masa regenerasi kepengurusannya, mulai level RTAR sampai Konggres.
Apa dan bagaimanakah kepemimpinan itu?
Pada dasarnya kepemimpinan mengacu pada proses yang menggerakkan sekelompok orang menuju ke suatu tujuan yng telah di tetapkan /di sepakati bersama dengan mendorong dan memotivasi mereka untuk bertindak dengan cara yang tidak memaksa. Jadi kepemimpinan adalah persoalan organisasi, yang menunjukkan bagaimana seseorang berusaha dengan kemampuannya, berupa pengetahuan yang dilakukan melalui sifat dan sikapnya, untuk mengorganisir (mengatur, mempengaruhi dan menggerakkan ) sekelompok orang yang ada dalam kelompok atau organisasi tersebut.
Seorang ulama mengkaji landasan kepemimpinan di ambil dari sebuah nash Al Qur’an.

Artinya :” Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung “. ( Q.S. Ali Imron : 104)
Dari ayat tersebut, kata ‘Ummah’ adalah organisasi yang akan menjadi baik (beruntung) jika dipimpin oleh seseorang yang berbuat benar, mengajak kebaikan dan mencegah keburukan (amar ma’ruf nahi mungkar). Jadi apapun cara yang dilakukan pemimpin, hasilnya haruslah memenuhi kepentingan terbaik orang –orang yang terlibat dalam tujuan jangka panjang yang nyata.
Terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi efektivitas kepemimpinan yang meliputi latar belakang pemimpin tersebut, antara lain : pengalaman, harapan terhadap kebijakan dan prosedur serta “fatsun” organisasi,juga komitmen terhadap kecenderungan umum dan norma-norma sosial.
Kepemimpinan yang baik akan mengkomunikasikan energinya, antusiasmenya, ambisinya, kesabarannya, kesukaannya dan arahannya. Ditambah dengan modal kejujuran, integritas, menggerakkan, memiliki gairah memimpin, percaya diri (confidence), intelegensi, dan pengetahuan yang relevan dengan mandat pekerjaan.
Kepemimpinan yang efektif itu lahir dari suatu proses sejak menciptakan wawasan, mengembangkan strategi, membangun kerja sama dan mampu bertindak, sehingga indikator pemimpin yang efektif adalah : Pertama, mereka mampu menciptakan wawasan dan wacana untuk masa depan dengan mempertimbangkan kepentingan jangka panjang kelompok yang terlibat. Kedua, mampu mengembangkan strategi yang rasional untuk menuju kearah tercapainya wawasan tersebut. Ketiga, mampu memperoleh dukungan dari pusat kekuatan (stake holder) dalam hal kerjasama, persetujuan, kerelaan atau kelompok kerja yang dibutuhkan untuk menghasilkan pergerakan. Keempat, mampu memberi motivasi yang kuat kepada kelompok inti yang tindakannya merupakan penentu untuk melaksanakan strategi.

Perspektif islam
Walau kriteria kepemimpinan telah di bahas di atas, perlu pula ditegaskan bahwa kepemimpinan menurut Islam sekurang-kurangnya mengandung tiga prinsip ; musyawarah, adil dan kebebasan berfikir.

Musyawarah.
Mengutamakan musyawarah sebagai prinsip yang harus diutamakan dalam kepemimpinan Islam. Melalui musyawarah memungkinkan seluruh anggota turut serta berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan, dan sementara itu pada saat yang sama musyawarah dapat berfungsi sebagai tempat untuk mengawasi tingkah laku kepemimpinan jika menyimpang dari tujuan semula.

Adil
Pemimpin sepatutnya mampu memperlakukan semua orang secara adil, terlepas dari suku bangsa, golongan, warna kulit, keturunan, strata sosial bahkan sekalipun ketika berhadapan dengan penantang mereka.
Kebebasan berfikir
Kepemimpinan memberikan ruang dan mengundang anggotanya untuk mengemukakan kritiknya secara konstruktif. Menciptakan suasana kebebasan berfikir dan pertukaran gagasan yang sehat dan bebas, saling kritik dan saling menasehati satu sama lain, sehingga anggota merasa senang mendiskusikan masalah/persoalan yang menjadi kepentingan bersama.

Dengan demikian, tidak tercipta kepemimpinan tirani dan tanpa kordinasi, tetapi kepemimpinan yang mengedepankan musyawarah secara obyektif dan penuh rasa hormat, membuat keputusan yang seadil-adilnya dan bertanggung jawab bukan kepada hanya anggota-anggotanya, juga yang lebih penting kepada Allah SWT.
Ahmadiyah, Kemanakah?
Akhir-akhir ini masyarakat(Umat Islam) dibingungkan dengan isu SARA, yaitu keresahan tentang sekte aliran sesat. Yang semakin hari semakin banyak. Namun modus yang krusial masih sama mulai isu seputar Nabi baru, perubahan rukun iman sampai penodaan Kitab suci.
Adalah aliran Ahmadiyah, atau aliran yang di bawa oleh Mirza Ghulam Ahmad Al Qodiani. Meski mereka mengaku masih bagian dari Islam, tetapi ada beberapa perbedaan, diantaranya menyakini adanya Nabi setelah Nabi Muhamad, mempunyai kitab suci selain Al Qur’an, mempunyai tempat suci selain Mekah dan Madinah ( Al Haramain), mempunyai nama bulan selain dalam kalender Hijriyah.
Kemunculan Ahmadiyah di Indonesia sudah di awal abad 20-an dan sejak kemunculannya sudah banyak mendapat tentangan dari mayoritas ulama’. Sehingga pada akhirnyaa, aliran ini mendapatkan vonis sesat dan terlarang untuk di sebar luaskan.
Departemen Agama, melalui Badan Pengkajian Aliran atau Faham Keagamaan di Indonesia, menilai ada tiga kontroversi dari aliran yang berpusat di India ini. Yaitu tentang tokoh Mirza Ghulam Ahmad baik sebagai nabi, rasul dan mujahid. Kedua tentang wahyu yang di terima Mirza Ghulam Ahmad yang di namakan At Tadzkirat. Ketiga tentang kedudukan Mirza Ghulam Ahmad sebagai al-Masih atau Al Mahdi yang dijanjikan.
Dalam mensikapi aliran Ahmadiyah ini, yang secara sepihak telah di fatwa sesat dan terlarang oleh MUI. Maka perlu ada upaya bersama untuk mencari jalan keluar yang win-win solution, sehingga pengikut Ahmadiyah yang mungkin sudah mencapai jutaan umat, tidak menjadi korban terhadap hal-hal yang tidak kita inginkan bersama.
SKB yang akan di putuskan pemerintah, di harapkan menjadi titik pijak baru bagi pengikut Ahmadiyah khususnya dan masyarakat pada umumnya. Sehingga kedepan akan semakin mempererat ukhuwah dan bersama-sama untuk mewujudkan kesejahteraan bersama.
Bagaimanapun Ahmadiyah adalah bagian dari umat Islam, bagian dari bangsa Indonesia. Sudah tidak sepatutnya berpikir adanya genoside, karena bertentangan dengan HAM dan melampaui hukum Tuhan.
Dengan berangkat dari pikiran penyelamatan, usaha persuasif perlu dikedepankan dengan mendialogkan bersama, diharapkan ditemukan kesepahaman bersama, sebagai jalan mencari solusi “kesesatan” mereka.
Agama itu sebuah pilihan
Selama ini kita melihat agama itu sebagai ajaran yang sangat ketat dalam membatasi kebesasan dari berbagai aturan yang bersumber dari ajaran agama seolah-olah berhadapan secara diametral dengan kebebasa. Namun bagi seorang Djohan Effendi. ‘’ dalam agam islam agama kebebasan itu utlak adanya.disini dalam arti bebas menetukan pilihan pada keyakinanya. bahkan untuk memilih tidak beragama pun diperbolehkan. “ paparnya .
Selama ini Djon dikenal sebagi sosok serang intelektual muslim yang bervisi humanis. Pemahaman agamanya tidak kaku dan sempiit untuk m3enilai semua sisi kehidupan.
Konsep pemikiran yang humaanis, toleran dan liberal, itu sangat bermanfaat bsgi kehidupan umat islam saat ini.terlebih ketika situasi umat islam berahapan dengan kehidupan internal berupa munculnya sikaop keagamanan yang sempit, sektalian dancenderung mengabaikan nilai-nilai kemasalakatan kehidupan .
Kebresaan beragama dalam islam itu mmutlak tanpa batas keberadaanya . La ikaha fiddin jadi sebenarnya esensi kebbebasan itu ya bebas, sebebas-bebasnya,karena memang tidak paksaan seseoramng untuk beragama. Bahkan tidak perlu diatur, sebab kalau diatur esensinya akan akan hilang.
Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Artikel dengan judul Merangkai "HAKEKAT" Kepemimpinan. Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://tulisendw.blogspot.com/2010/02/merangkai-hakekat-kepemimpinan.html. Terima kasih!
.::Artikel Menarik Lainnya::.