Blog Tentang Artikel, Makalah, Tips, dll

Budaya Pop


Pop culture alias budaya populer memang selalu menarik untuk dikaji. Bagaimana tidak, jika ditelaah dengan pengamatan yang mendalam, keberadaan budaya populer bisa jadi merupakan refleksi dari keberadaan peradaban manusia itu sendiri, pada waktu itu. Dalam artian, jika ingin melihat fenomena yang sedang terjadi cukup amati melalui budaya yang tengah berkembang.
Dalam kehidupan yang materialistik, hedonistik, dan konsumtif, konsep martabat manusia telah mengalami pergeseran dari sesuatu yang bersifat inner menjadi sesuatu yang artifisial. Kebudayaan juga bergerak menuju arah pergeseran yang sama sehingga dalam apa yang disebut sebagai budaya pop, karakter yang menonjol adalah instan, dangkal, egosentris, dan market oriented. Orientasi pada nilai-nilai kehidupan yang bersifat sosial-kemanusiaan, atau idealisme tertentu dalam hubungan sesama manusia atau hubungan antara manusia dan alam, menjadi sesuatu yang asing dalam kebudayaan popular atau budaya pop.
Jika diamati lebih dalam, segala bentuk perkembangan dapat saja dikategorikan sebagai budaya Populer. Perkembangan sosial saat ini, pada dasarnya telah melampaui pemikiran modernitas (yang ditandai dengan munculnya industri barang dan jasa) menuju pemikiran pascamodernitas yang cenderung lebih diorganisasikan oleh seputar konsumsi budaya, permainan media massa, dan perkembangan teknologi informasi (Smith, 2001 b:214-232).
Di tahun 1960-an misalnya, , relasi antara rock dan revolusi bukanlah merupakan suatu kebetulan. Bob Dylan menelorkan musik cadas itu justru terpengaruh oleh gerakan sayap kiri sehingga ia sering dimata-matai oleh agen-agen FBI. Solidaritas politik juga sering dimunculkan dalam berbagai lagu rock dan festival musik rock yang muncul saat itu, seperti halnya Woodstock Music and Art Fair 1969, yang kemudian lebih dikenal sebagai Woodstock saja (Frith dalam Lazare [ed],1987 :309) dianggap sebagai gerakan terbesar dalam khasanah counter culture (Storey dalam Storey [ed],1994 : 236). Anggapan bahwa Woodstock merupakan gerakan perlawanan kebudayaan merupakan hal yang tidak berlebihan. Terbukti Woodstock ’69 secara fantastis mampu mewujudkan dirinya sebagai medium perlawanan (resistensi) yang disuarakan oleh 500.000 audiensnya (Storey dalam Storey [ed],1994 : 236). Perlawanan yang ditujukan pada keterlibatan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam yang banyak memakan korban generasi muda Amerika (Bannet, 2001:1)
Munculnya komunitas punk juga merupakan merupakan ekspresi perlawanan terhadap suatu kemapanan. Punk juga dikenal sebagai gerakan anak muda kelas pekerja di Amerika yang mengalami masalah ekonomi dan keuangan, kemerosotan moral para tokoh politik, lalu memicu tingkat pengangguran dan kriminalitas yang tinggi. Punk dipandang sebagai satu-satunya pilihan bagi mereka yang sudah kehilangan kepercayaan terhadap otoritas negara, masyarakat, maupun industri musik. Dan kini, Punk dikenal sebagai fashion, seperti potongan rambut mohawk ala suku Indian, atau dipotong ala feathercut dan warna-warna yang terang, sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, anti kemapanan, anti sosial, kaum perusuh dan kriminal dari kelas rendah, dan pemabuk berbahaya.
Demikian munculnya para pecinta tatto di sejumlah negara (termasuk Indonesia) adalah salah satu bentuk ekspresi perlawanan terhadap adanya kemapanan secara normatif. Padahal bagi orang Mentawai, tatto merupakan roh kehidupan, salah satunya adalah untuk menunjukkan jati diri dan perbedaan status sosial atau profesi. Bagi masyarakat Mentawai, tatto berfungsi sebagai simbol keseimbangan alam. Dalam masyarakat itu, benda-benda seperti batu, hewan, dan tumbuhan harus diabadikan di atas tubuh. Juga dalam keyakinan masyarakat Dayak (Dayak Iban dan Dayak Kayan), tatto wujud penghormatan kepada leluhur, dan ungkapan kepada Tuhan terkait dengan kosmologi Dayak. Tatto sebagai budaya tanding (counter culture) yang dikembangkan generasi muda melawan pengawasan kelompok dominan (orang tua, kalangan elite masyarakat, norma sosial yang ketat, dll).
Pengaruh media massa menampilkan artis-artis di televisi, terutama rocker-rocker Barat seperti Guns n’ Roses, Motley Crue, Red Hot Chili Pepper, dll. menjadi idola para fansnya dan menjadi sumber inspirasi untuk menunjukkan jati diri. Sehingga tidak heran jika ssegala sesuatu yang dilakukan sang artis menjadi daya tartik yang akan terus menerus ditur oleh para penggemarnya . Sejak tingkah laku, pakaian yang dikenal, bahkan cara menyikat gigi pun akan memberi sihir sakti yang akan diikuti.
Inilah gambaran kebudayaan populer (popular culture) yang kemudian menciptakan dialektika antara homogenisasi (penyeragaman) dan heterogenisasi (keragaman). Pertama, kebudayaan populer menawarkan keanekaragaman dan perbedaan ketika ia diinterpretasi ulang oleh masyarakat yang berbeda di lain tempat. Kedua, kebudaya populer dipandang sebagai sekumpulan genre, teks, citra yang bermacam-macam dan bervariasi yang dapat dijumpai dalam berbagai media, sehingga sukar kiranya dapat dipahami dalam kriteria homogenitas dan standardisasi baku.

Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Artikel dengan judul Budaya Pop. Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://tulisendw.blogspot.com/2010/03/budaya-pop.html. Terima kasih!
.::Artikel Menarik Lainnya::.