Blog Tentang Artikel, Makalah, Tips, dll

Style Kepemimpinan Berdasarkan Aspek-aspek Geografi, Sosial Budaya Dan Seni


Bung Karno –Bung Hatta (Jawa-Sumatra)

Ayah Soekarno selalu mendidik dirinya dengan disiplin keras dan menanamkan kasih sayang terhadap segala mahluk hidup. Selain dari ayahnya, pertumbuhan jiwa Soekarno juga dipengaruhi oleh pembantu rumah tangganya (Sarinah) yang sangat menyayanginya. Sejak masa kecil Soekarno selalu menjadi pemimpin kelompok kawan mainnya. pada saat inilah ia sering terlibat perkelahian dengan anak-anak Belanda yang waktu itu sering menghina anak-anak Pribumi. Soekarno secara aktif menguasai enam bahasa, kemahirannya berpidato diakui diseluruh dunia. Soekarno sejak kecil mengagumi tokoh wayang Werkudoro (Bima) yang tegas dan selalu menegakkan keadilan. Meskipun memiliki kekuasaan yang sangat besar Soekarno mengutamakan hidup kesederhanaan. kecerdasan dan jiwa kepemimpinannya mengantarkan dia sebagai pemimpin partai politik dan pemimpin Negara. Dalam rangka mencapai persatuan bangsa, jiwa Soekarno ynag Nasionalis sosialis memacunya dalam melontarkan gagasan yang selalu bertentangan dengan Nasakom (Nasionalis, Agama dan Komunis).

M. Hatta adalah putra seorang ulama’ besar dari Batuhmpar, Kabupaten limapuluh kota. Sedangkan Ibunya berasal dari keluarga terpandang Di Bukittinggi. Perasaan Nasionalisnya tumbuh setelah ia gemar membaca tulisan H Agus Salim dan Tjokro Aminoto. Selain itu, kesaksiannya terhadap perlakuan kasar serdadu-serdadu Belanda kepada rakyak yang dicurigai sebagi pemberontak Di Kamang, dekat Bukittinggi (1908) semakin menambah jiwa perlawanannya terhadappenjajah. Hatta meletakkan dasar perjuangan untuk mendidik rakyak dalam hal-hal politik, ekonomi dan sosial dengan memperhatikan azaz-azaz kedaulatan rakyat. Pendidikan Ekonomi dimaksudkan untuk menumbuhkan tata Ekonomi yang berdasarkan cita-cita kolektifisme (Koperasi) dan mengembangkan serikat pekerja. Hatta mencita-citakan kedaulatan rakyat yang berdasarkan rasa kebersamaan. ia menggali dasar tersebut dari paham demokrasi asli Indonesia yang hidup dipedesaan, kemudian menyesuaikan dengan zaman yang sudah berubah. dalam pergaulan hidup dilingkungannya, demokrasi hanya berkembang dibawah (desa), sedangkan diatasnya terdapat kekuasaan otokrasi yang disebut ”Daulat Tuanku”. Menurut Hatta Daulat Tuanku harus diganti dengan Gaulat Rakyat.

Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Artikel dengan judul Style Kepemimpinan Berdasarkan Aspek-aspek Geografi, Sosial Budaya Dan Seni. Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://tulisendw.blogspot.com/2010/03/style-kepemimpinan-berdasarkan-aspek.html. Terima kasih!
.::Artikel Menarik Lainnya::.