Blog Tentang Artikel, Makalah, Tips, dll

Memilih selara Dangdut Vs Sholawat

Selama ini, masyarakat Jepara dikenal sebagai warga yang memiliki minat relatif tinggi terhadap musik dangdut. Hampir setiap malam, jika mau melakukan safari ke setiap pelosok Jepara kita akan menemukan Orkes dangdut. Tontonan gratis ini merupakan tontonan favorit yang menjadi idola dan dinanti-nantikan oleh penggemarnya. Bahkan, beberapa orang yang mengidolakan salah satu orkes melayu ini rela bersafari setiap malam hanya untuk bergoyang ria bersama orkes dan biduan pujaan.
Biasanya, dangdut digunakan sebagai hiburan pada acara besar keluarga, misalnya nikahan, sunatan, bahkan tasyakuran haji dan umrah. Selain karena kesenangan pemilik hajat,  dangdut dipilih karena efek ampuhnya dalam menghadirkan keramaian dan tamu berdatangan, sehingga acar besar keluarga benar-benar terlihat ramai dan besar. Tontonan gratis itu membuat masyarakat berdatangan, berdesak-desakan menikmati musik khas Indonesia itu, ngibing (bergoyang) bareng, yang seringkali memicu timbulnya kekerasan antar penonton.
Dangdutan memang hiburan, namun juga berarti ancaman keamanan dan ketertiban . Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, ada banyak polisi diterjunkan untuk mengondisikan penonton orkes, namun bukan berarti akan bersih sama sekali dari kekacauan karena realitanya hampir dipastikan bahwa setiap acara musik dangdut pasti terjadi perkelahian, apalagi kalau orkes tersebut orkes idola. Layaknya musik rock dan punk diluar negeri, dangdut merupakan hiburan popular khas Indonesia.
Baru-baru ini keriuhan orkes dangdut di Jepara sedikit terkikis oleh keriuhan lain yang barang kali lebih positif, yaitu sholawatan atau mauled nabi. Beberapa tahun terakhir, hampir setiap malam selalu ada acara sholawatan atau maulidan yang dipimpin oleh Habib Syech bin Abdul Qodir as-Segaf yang dikenal dengan Habib Syech dari solo. Beliau merupakan pimpinan dari Jam’iyyah Ahbabul Mustofa, yaitu jam’yyah sholawat yang membacakan kumpulan syair pujian bernama Simtudduror karya Habib Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsy, pujangga kelahiran Hadramaut, Yaman.
Layaknya artis idola, masyarakat berbondong-bondong menghadiri setiap acara maulid yang beliau pimpin. Habib Syech yang terkenal dengan suara khasnya yang merdu mampu mengajak masyarakat bersholawat ria bersama-sama. Orang-orang yang sebelumnya tidak pernah mengikuti kegiatan keagamaan, mengikuti arus baru itu, menghadiri acara tersebut karena penasaran dan juga karena memang ingin bersholawat ria. “Saya Cuma ikut teman-teman aja kok mas, katanya banyak ceweknya” kata salah seorang jamaah dalam salah satu pengajian di Jepara (21/2)
Bukan hanya warga Jepara yang hadir, orang luar kota juga tidak jarang mengikuti ke mana pun sang idola manggung. Penggemarnya juga berasal dari berbagai kalangan. Tua, muda, anak-anak, pedagang asongan, petani, santri, abangan, semua mengikuti syair arab yang dilantunkan itu. Seperti sebuah konser musik populer, hampir semua penonton bisa mengikuti syair-syair atau nyanyian lagu pujian kepada Nabi Muhammad SAW yang dibawakannya. Bahkan saking seringnya mengikuti acara yang sama, ada yang hafal kumpulan syair yang tersusun hingga puluhan halaman itu, di luar kepala.
Yang menarik adalah euforia praktik keagamaan itu ternyata menyedot ribuan hadirin. Pernah suatu ketika dalam malam yang sama di desa yang sama, orkesan dangdut dan maulidan diadakan bersamaan oleh dua orang bertetangga. Namun kuantitas penikmat dangdut ternyata tidak bisa melebihi tumpahnya hadirin yang mengikuti pangajian maulidan itu. Orang lebih memilih menghadiri pengajian daripada dangdutan. Mengapa?
Barangkali ada dua hal menarik sebagai penggambaran karakter sosial dan kultur budaya masyarakat Jepara. Pertama, ketertarikan masyarakat terhadap acara keagamaan seperti maulidan adalah karena mayoritas penduduknya masih memegang teguh nilai dan tradisi yang sudah berlaku sejak lama.
Kedua, mereka merindukan suasana baru yang lebih aman daripada dangdutan yang kadang melahirkan kecemasan pribadi dan sosial, namun masih dalam suasana yang menghibur serta menyajikan nilai tambah dalam peningkatan pengetahuan dan spiritual.
Acara maulidan itu bukan hanya membacakan dan melantunkan bait menjadi lagu merdu, namun juga ada keterangan tambahan dari pembicara, idola baru itu. Bahkan, dalam kesempatan tertentu, disediakan waktu khusus kepada hadirin untuk memberikan pertanyaan kepada pembicara itu. Hal yang tidak didapati dalam pertunjukan orkes dangdut. Dengan mengikuti acara itu, orang akan lebih dekat dengan teks sejarah kehidupan dan perjuangan Nabi Muhammad.
Jika dilihat secara substansial, acara yang mulanya dimaksudkan untuk tujuan dakwah akhirnya menjadi seperti pertunjukkan konser musik band, yang semata untuk mencari hiburan dan keriuhan sensasi. Bagaimana tidak, tutur kata yang dilontarkan tidak lebih banyak daripada syair arab yang dilagukan dengan iringan rebana itu. Hiburan bukan iringan, tapi menjelma tujuan”. ( M Abdullah Badri, peneliti budaya di Idea Studies Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang ). Oleh karena itu, semua kembali pada individu masing-masing, karena setiap hal pasti mempunyai sisi positif dan negatif.



Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Artikel dengan judul Memilih selara Dangdut Vs Sholawat. Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://tulisendw.blogspot.com/2010/04/memilih-selara-dangdut-vs-sholawat.html. Terima kasih!
.::Artikel Menarik Lainnya::.