Blog Tentang Artikel, Makalah, Tips, dll

Fenomena Yang Terjadi Di Dalam Tahun Dudo

Katakanlah: "Tuhanku Hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui."
  
Masyarakat jawa biasanya identik dengan mitos. Ada cerita Nyi Rorokidul, Nyi Blorong, dan cerita-cerita mistis atau adat-adat jawa lainnya. Dan yang tak kalah menarik untuk dibahas diantaranya adalah tentang fenomena “tahun dudo”(kalau dalam kalender cina di sebut tahun kerbau).
Tahun dudo adalah mitos yang kontrofersial, Menurut kepercayaan masyarakat jawa, barang siapa yang melakukan sesuatu hal yang penting seperti: menikah, bepergian jauh, mendirikan rumah, bekerja untuk pertama kali, menggarap sawah, dan pekerjaan penting lainnya maka akan mendapat balak yang tak disangka-sangka. Itulah kepercayaan yang sudah mengakar kuat di kancah masyarakat. Hal itu juga didukung dengan adanya kisah nyata. Sebagai contoh sebut saja Imah [samaran] bepergian di tanggal satu suro (awal tahun dudo), oleh orang-orang terdekatnya sudah dilarang, tapi dia masih bersikukuh, akhirnya dia kecelakaan di jalan dan harus di rawat di rumah sakit.
Bagi masyarakat modern mereka tidak mempermasalahkan mitos itu, malah mereka dengan santainya pergi jauh hanya untuk merayakan tahun baru, dan bahkan ada yang berani mengadakan walimah. Apalagi bagi kalangan mahasiswa yang lebih percaya pada nalar dari pada mitos.
Orang jawa membagi tahun menjadi delapan bagian, yaitu :
1)    aboge     : Rabu wage            tahun alif
2)    Hakhadpon    : Ahad pon            tahun ha’
3)    Jaahpon    : Jumat pon            tahun jim awal
4)    Yasohen    : Selasa pahing            tahun za
5)    Daltugi    : Sabtu legi            tahun dal
6)    Bamesgi    : Kamis legi            tahun ba’
7)    Wawunenwon: Senen kliwon        tahun wawu
8)    Jaahgeyo     : Jumat wage            tahun jim akhir
Dalam hitungannya antara tahun yang satu dengan tahun yang lain harus mempunyai pasangan kalau tidak punya pasangan maka itu disebut tahun dudo penjelasannya sebagai berikut:
Tahun aboge berpasangan dengan tahun jaahgeyo (sama-sama pasarannya wage, lihat di atas), tahun hakhadpon  berpasangan dengan jaahpon (sama-sama pasarannya pon), tahun yasohen adalah tahun dudo karena tidak ada pasangannya, tahun daltugi berpasangan dengan bamesgi (sama-sama pasarannya legi), dan untuk ke dua kalinya tahun dudo jatuh pada tahun wawunenwon karena tidak ada pasanganya, orang jawa mencocookkan pasarannya, bukan harinya.
Kenapa ada tahun Jawa? Dahulu kala ada seorang pemuda berasal dari tanah Hindia beragama Hindu yang bernama Aji Saka. Aji Saka datang ke tanah Arab untuk menyamai Rosulullah. Jika Nabi membuat hari : Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Ahad maka,  Aji Saka membuat pasangannya yaitu : Pahing, Pon, Wage, Kliwon, Dan Legi.
Karena sifatnya yang congkak itu maka Sayyidina Ali menjadi murka dan menggertak Aji Saka hingga ke tanah Jawa. Dalam hal ini, ada pendapat lain saat Aji Saka kalah bertanding dia pun malu lalu melompat ke tanah Jawa. Ada cerita lain dikisahkan Aji Saka beragama islam  asli Arab (ada yang bilang orang mesir), Aji Saka pergi ke tanah Jawa untuk berdagang. Tepat pada saat itu di tanah Jawa ada seorang raja berbentuk raksasa bernama Dewata cengkar yang hobinya memakan manusia, setiap hari raja meminta rakyatnya untuk menyediakan satu orang untuk disantapnya. Aji Saka pun rela menjadi santapan sang raja, namun dengan syarat raja harus memenuhi permintaannya. Yaitu raja harus menyediakan tanah sepanjang ikat kepala yang masih dipakai Aji Saka, untuk mengubur tulang-tulangnya kelak. Dan yang menarik kain itu haruslah sang raja. Namun dengan kesaktian Aji Saka, ikat kepala itu tak kunjung selesai ketika ditarik, sehingga sampailah di tepi pantai. Saat sampai di tepi pantai Aji Saka lalu menarik ikat kepalanya, terjatuhlah Dewata cengkar dan menjadi buaya putih. Dengan demikian, penduduk Jawa tidak harus menyediakan santapan untuk raja. Mungkin atas dasar untuk membalas budi baik Aji Saka itulah, maka hitungan yang dibuat Aji Saka digunakan di tanah Jawa”.
Islam mengajarkan ummat-Nya untuk tidak menyekutukan Allah. Maka Dosa besar jika menyandarkan sesuatu pada hari atau tanggal, Rosulullah pun melarang ummat-Nya percaya pada tradisi jahiliyah perihal ramalan bintang, ramalan burung, kartu, atau mengikuti anak panah ketika akan berpergian. Lalu bagaimana dengan keyakinan orang Jawa yang percaya akan adanya tahun dudo yang jatuh setiap satu windu dua kali.
Setiap orang mempunyai persepsi yang berbeda-beda. Menurut Mbah haji Zari (sesepuh Ujungpasir Demak) “kita tidak boleh mengimani mitos itu, tapi untuk ke hati-hatian tidak apa-apalah, dari pada kita menerjang larangan itu tapi malah kena balaknya, seperti kata pepatah sedia payung sebelum hujan” tutur beliau dengan logat jawanya yang khas. Namun bagi para Kiyai/Ulama  berpendapat lain “Sama sekali tidak dibenarkan mempercayai hal-hal seperti itu, islam sudah mempunyai hari-hari baik sendiri, seperti hari senin, jumat  yang telah dianjurkan oleh Rosulullah, yang lebih bisa dipercaya dari pada mitos itu” jelas bapak KH. Sholihin. Begitu juga pendapat Mbah haji Farohi yang sudah di anggap kiyai oleh masyarakat sekitarnya,“Kita tidak boleh percaya akan mitos itu. tetapi kenapa kiyai-kiyai terdahulu mengajarkan hitungan-hitungan tentang tahun Jawa sehingga sampai pada bagian tahun dudo, itu tak lain adalah agar supaya nantinya orang-orang tidak lupa dengan hitungan jawa, yang dapat menambah khazanah kekayaan tradisi jawa. Selain itu. Dulu, orang menghitung umur seseorang menggunakan hitungan itu (tahun jaahgeyo dst.)”.
Tahun dudo, sebuah mitos yang menjadi misteri bagi orang jawa kuno. Lalu apakah kita akan melupakannya dan menganggap masa bodoh dengan hal itu, atau kita akan mempercayainya yang oleh sebagian masyarakat modern dianggap hal gila, dan bagi para ulama’ sudah dianggap syirik. Seperti disitir dalam Al-qur’an :
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia Telah berbuat dosa yang besar.
Namun semua itu tergantung persepsi kita, dan semua kembali pada kita “Addinu Yusron”, Islam membawa perdamaian bukan perbedaan.
Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Artikel dengan judul Fenomena Yang Terjadi Di Dalam Tahun Dudo. Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://tulisendw.blogspot.com/2010/05/fenomena-yang-terjadi-di-dalam-tahun.html. Terima kasih!
.::Artikel Menarik Lainnya::.