Blog Tentang Artikel, Makalah, Tips, dll

KEDUDUKAN SUNNAH SEBAGAI DALIL HUKUM ISLAM

Sunnah berfungsi sebagi penjelas terhadap hukum-hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an. Dalam kedudukanya sebagai penjelas itu kadang-kadang sunnah itu memperluas hukum yang tersebut dalam Al-Qur’an dengan arti menetapkan sendiri hukum di luar apa yang ditentukan Allah dalam Al-Qur’an.
Kedudukanya sebagai dalil atau sumber bayani, yaitu sekedar menjelaskan hukum Al-Qur’an tidak diragukan lagi, karena memang untuk itulah Nabi ditugaskan Allah. Dalam kedudukannya sebagai sumber yang berdiri sendiri sebagai sumber kedua dengan arti menetapkan sendiri hukum di luar yang tersebut dalam Al-Qur’an dipertanyakan oleh ulama Ushul Fiqh. Karena ini disebabkan oleh keterangan Allah sendiri bahwa Al-Qur’an atau agama sudah sempurna (Al_Maidah:4), karenanya tidak perlu lagi ditambah oleh sunnah.

Dari segi kekuatan penunjukanya terhadap hukum (dilalahnya) sunnah terbagi kepada dua, yaitu :
- Pertama penunjukan yang pasti (qat’i) yaitu sunnah yang membarikan penjelasan terhadap hukum dalam Al-Qur’an secara tidak tegas dan terinci hingga memungkinkan adanya pemahaman lain.
- Kedua penunjukan yang tidak pasti (zanni) yaitu sunnah yang memberikan penjelasan terhadap hukum dalam Al-Qur’an secara yang tidak tegas dan terinci hingga dapat timbul kemungkinan-kemungkinan dan menimbulkan perbedaan versi dalam penetapan hukum.
Sunnah yang mempunyai martabat tertinggal dalam kedudukanya sebagai sumber dan dalil hukum adalah sunnah yang qat’i dari segi sanadnya dan qat’i pula dari segi dalalahnya. Namun jumlahnya sangat terbatas.

B. Hukum Inkar Sunnah
Setiap orangyang mengingkari Sunnah adalah kafir. Demikian pula setiap orang yang mengingkari satu perkara saja di dalam Al-Qur’an yang telah jelas penunjukannya. Al-Qur’an telah menetapkan tentang wajibnya taat kepada Rasulullah.
Dengan demikian, orang yang mengingkari perintah Rasul (Sunnahnya) adalah kafir. Ini adalah hokum Islam yang disandarkan oleh semua lembaga fatwa Islam. Firman Allah :
"Demi Tuhanmu, tidaklah mereka itu beriman hingga mereka menjadikan engkau sebagi hakim di dalam perkara yang diperselisihkan di antara mereka. Lantas mereka tidak menemukan pada dirinya keberatan terhadap apa yang engkau putuskan itu. Mereka menerimanya dengan penuh kepasrahan. "(QS 4:65).

Oleh karena itu, pengambilan dan penetapan hukum terhadap Al-Qur’an dan Sunnah mesti dilakukan bersamaan, tidak boleh ada diskriminasi di antara keduanya. Oleh karena itu pula, seorang Muslim tidak boleh mengambil hukum selain dari Al-Qur’an dan Sunnah. Demikian pula para hakim dan para penguasa, mereka tidak boleh menetapkan hukum dengan apa yang tidak diturunkan oleh Allah atau selain Sunnah Rasul. Barang siapa yang telah kafir, karena pengingkaranya terhadap keduanya, berarti dia telah kafir, karena pengingkaranya terhadap hukum Allah dan sikapnya yang menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah. Sedangkan orang yang hawa nafsunya cenderung untuk melakukan penyimpangan terhadap keyakinan, penuturan, dan pengakuanya bahwa hukum Allah dan Rasul-Nya itu adalah yang paling utama, paling wajib untuk diamalkan, dan paling baik, hukum bagi orang yang melakukan penyimpangan terhadap Islam hanyalah apabila ia melakukan salah satu perbuatan maksiat, bukan karena menetapkan hukum halal-haram di luar yang bersumber dari Allah.
Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Makalah dengan judul KEDUDUKAN SUNNAH SEBAGAI DALIL HUKUM ISLAM. Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://tulisendw.blogspot.com/2010/05/kedudukan-sunnah-sebagai-dalil-hukum.html. Terima kasih!
.::Artikel Menarik Lainnya::.