Blog Tentang Artikel, Makalah, Tips, dll

Pandangan Perempuan Dalam Wacana KeIslaman

Bismillahirrahmanirrahiim

Manusia adalah makhluk soisal, hal ini disadari benar oleh Islam karenanya Islam sangat mencela individualistis dan sebailiknya sangat menekankan pembinaan dan semangat ukhuwah (kolektivisme), bahkan semangat ukuhuwah merupakan salah satu risalah islam yan sangat menonjol.
Pendidikan merupakan salah satu pilar pembelajaran untuk mendidik dan mencerahkan umat manusia. Pembelajaran menempati posisi penting dan strategis dalam khasanah pendidikan baik pendidikan umum maupun Islam. Spirit keagamaan, semangat keikhlasan, kemandirian, perjuangan membangun, dan semangat mempertahankan jalinan merupakan khasanah yang walau bagaimanapun harus tetap dipertahankan meski trend modernisme yang serba materialistik dan hedonistik tengah menyeruak dari kerubutan semak-semak. Melalui tulisan sederhana ini, saya hanya ingin berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang upaya membangun nuansa keadilan antara lelaki-perempuan sebagai salah satu ibadah mu’amalah yang menjadi ajaran Islam.


Sebagai mana kita ketahui, sebelum Islam datang (zaman jahiliah) kedudukan kaum wanita sangat direndahkan. Setelah agama Islam datang, diseimbangkan (dinaikan) derajatnya.

Kalau Islam menetapkan hak dan kewajiban bagi pria maupun wanita ada yang sama dan ada yang berbeda, itu tidak mempersoalkan kedudukanya, tetapi fungsi dan tugasnya. Menurut ajaran Islam, pada dasarnya Allah SWT menciptakan manusia, baik pria maupun wanita, semata-mata ditujukan agar mereka mampu mengabdi kepada-Nya, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, “Dan, tidak aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”(adz-Dzaariyat:56)

Islam adalah suatu agama yang lengkap dan sempurna yang dibawa Rasulullah saw untuk mengatur hidup dan kehidupan manusia agar memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan akhirat. Maka, kedudukan, hak, dan kewajiban wanita ada yang sama dan ada pula yang berbeda dengan pria. Dalam banyak hal, wanita diberikan hak dan kewajiban serta kesempatan yang sama dengan pria. Namun, dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan kodrat dan martabat wanita, Islam menempatkan sesuai dengan kedudukanya.

Dilihat dari peranannya, secara garis besar wanita mempunyai kedudukan berperan ganda. Peran tersebut dibagi menjadi dua, yaitu peran dalam rumah tangga (domestik) dan peran dalam masyarakat (di luar rumah).


1.    Peranan Wanita dalam Rumah Tangga
Dilihat dari kedudukan, tugas, dan fungsinya dalam rumah tangga, wanita memiliki peran ganda, yaitu sebagai hamba Allah, sebagai anggota keluarga, ibu rumah tangga, istri, pendidik anak-anak, dan sebagai pemelihara kesehatan masyarakat.

2.    Peran Wanita dalam Masyarakat
Pergaulan dalam masyarakat berarti pergaulan di luar rumah tangga sendiri. Masyarakat itu sangat luas, dimulai dari tetangga kanan kiri, masyarakat tingkat rukun tetangga (RT), rukun warga(RW), kelurahan, kecamatan, terus keatas hingga tingkat nasional. Sebagai seorang istri yang muslimah, ia harus pandai bertata krama dalam masyarakat sesuai petunjuk ajaran Islam. Artinya, bagaimanapun luasnya pergaulan, ia tetap harus memperhatikan rambu-rambu atau aturan yang telah digariskan.

Adab muslimah terhadap tetangga antara lain :
-    bersikap ramah dan senantiasa berlapang dada,
-    saling menolong dan bantu-membantu,
-    manguatkan tali silaturahmi,
-    saling menjaga kehormatan dan nama baik,
-    menjenguk di kala sakit dan menyenagkan hatinya di kala susah,
-    menjaga aib dan jangan suka menyelidiki rahasia tetangga,
-    saling menasihati bila dipandang perlu sebagai tanggung jawab dalam amar ma’ruf nahi munkar, dll.

Sebagai warga masyarakat, seorang muslimah tidak lepas dari kewajiban-kewajiban di dalam lingkungan masyarakat. Kalau mampu dan memungkinkan, ia bisa berperan aktif dalam masyarakat. Sebagai warga negara, ia mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam tanggung jawabya dalam membangun bangsa dan negara. Rasulullah bersabda, “wanita itu tiang negara. Apabila wanita-wanitanya baik, baiklah negara. Akan tetapi, apabila wanitanya rusak, rusak pula negara itu.”

Begitu juga dalam ranah keislaman, mengajak kepada yang ma’ruf dan melarang yang munkar adalah tugas bagi semua muslim, lelaki maupun wanita. Hal ini merupakan cirri khas dari lahirnya umat yang terpuji. Dalam Al-Qur’an telah diperantakan :”Jadilah kalian umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf,  mencegah dari munkar, dan beriman kepada Allah”. (Qs.Ali Imron:110).

Wanita telah terbebani tanggung jawab beramal ma’ruf nahi munkar sejak dia mengikrarkan diri masuk Islam. Karena itu, hendaknya mereka segera memerintah kepada yang ma’ruf dan melarang yang munkar, belajar dan mengajar, tidak tinggal diam ketika menyaksikan apa saja yang menyeleweng dari kitabullah dan sunnah Rasul.

Jika pria dan wanita mempunyai kewajiban-kewajiban sama dalam hubungan dengannya dengan shalat, zakat, dan menyuruh kepada kebajikan dan mencegah kemunkaran, maka mereka sudah semestinya mempunyai kesempatan pendidikan yang sama.


DAFTAR PUSTAKA

·    Koderi,Muhammad, 1999, Bolehkah Wanita Menjadi Imam Negara, Jakarta : Gema Insani Press

·    Muslikhati, Siti, 2004, Feminisme dan Prempuan Dalam Timbangan Islam, Jakarta : Gema Insani Press

·    Al-Mahali, Abu Iqbal, 2000, Muslimah modern dalam bingkai Al-Qur’an dan Hadits, Yogyakarta : LeKPIM

·    Yamani, Mai, 2000, Perspektif hukum dan sastra Feminisme dan Islam. Nuansa
Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Artikel / Makalah dengan judul Pandangan Perempuan Dalam Wacana KeIslaman. Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://tulisendw.blogspot.com/2010/06/pandangan-perempuab-dalam-wacana.html. Terima kasih!
.::Artikel Menarik Lainnya::.