Blog Tentang Artikel, Makalah, Tips, dll

Punk sebagai Budaya Tandingan (Counter Culture)

Subkultur merupakan bagian dari kebudayaan dominan yang dianut oleh sebagian tertentu dari masyarakat pendukung kebudayaan dominan atau mainstream. Subkultur tersebut bisa saja sesuai dengan budaya mainstream, atau mungkin bertentangan dengan nilai-nilai budaya mainstream dan  menjadi counter culture (budaya tandingan). Walaupun bertentangan, budaya tandingan tidak selalu buruk. Menurut Hans Sebald dalam Soerjono Soekanto (1990:92) budaya tandingan bisanya timbul karena terpenuhinya syarat-syarat sebagai berikut :

1)    Suatu bagian dari masyarakat atau kelompok sosial tertentu sedang mengahadapi masalah yang bukan merupakan persoalan yang dihadapai oleh warga-waraga lainnya.

2)    Menurut Rubington dan Weinher budaya tandingan harus mencerminkan :
…a common understanding and prescribed ways of thinking, feeling, and acting when in the company of one’s own deviant peers and dealing with acting when in the company of one’s own deviant peers and dealing with representatives of the conventional world. Once these deviant (counter culture come into being, and flourish, they have consequens for their bearers and conventional outsiders well.
(Sebuah cara pemahaman dan penentuan yang lazim dari pikiran, perasaan, dan tindakan dalam suatu kelompok orang yang mempunyai teman sebaya yang menyimpang dan berhububgan dengan wakil dunia yang umum. Sekali para penyimpang ini melawan budaya menjadi bentuk kehidupan, dan berjalan baik, mereka mempunyai dampak bagi pembawa pesan mereka dan juga orang di luar mereka).
3)    Anggota-anggota kelompok sosial yang menimbulkan budaya tandingan mempunyai taraf keterlibatan tertentu yang dianggap signifikan.
4)    Adanya suatu lembaga total (total institution) yang menangani mereka, seperti yang diungkapkan oleh Erving Goffman “…a place where people live and work with a large number of like-situated persons, where they are, cutt-off from the broader society for signifikan periods of time, and where they lead and enclosed, fonnaly administered life”. (…suatu tempat tinggal dan bekerja di dalamnya sejumlah individu dalam situasi sama, terputus dari masyarakat yang lebih luas untuk jangka waktu tertentu, bersama-sama menjalani hidup yang terkungkung dan diatur secara formal).

Pengertian punk sebagai counter culture terhadap budaya mainstream dikemukakan oleh Craig O Hara dalam Philosophy Of Punk (Thya, Keep punk a live, www.pikiranrakyat.com) menyebutkan tiga definisi punk yaitu: 1) punk sebagai trend remaja dalam fashion dan musik; 2) punk sebagai keberanian memberontak dan melakukan perubahan; 3) punk sebagai bentuk perlawanan yang “hebat” kerena menciptakan musik, gaya hidup komunitas dan kebudayaan sendiri.
1)    Punk sebagai trend remaja dalam fashion dan musik.
Punk memang lebih terkenal dari segi fashion dan musik (kecuali bagi negara asal punk muncul) seperti yang diungkapkan oleh Rouse dalam Malcolm Barnard (1996:185) “Punk muncul untuk dikembangkan sebagai suatu reaksi atas komersialisasi besar-besaran musik dan fashion bagi kaum  muda”. Dalam fashion segala atribut dan aksesoris punk telah diadopsi oleh kaum muda sebagai trend. Contohnya seperti fashion punk yang identik dengan jaket kulit dan celana jeans ketat yang lusuh, sepatu boot, memakai rantai dan spike, serta gaya rambut mohawk ala suku Indian yang dicat dengan warna-warna terang.

Punk juga dikenal sebagai musik pemberontakan. Jenis musik komunitas underground ini adalah turunan dari jenis musik rock. Melalui musik turunan rock yang bertempo tinggi mereka mengemukakan kemarahan pada kapitalisme, militerisme, fasisme, dan rasisme yang dianggap sebagai tindak penindasan. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun terkadang kasar, beat yang cepat dan menghentak.

2)    Punk sebagai keberanian memberontak dan melakukan perubahan.
Kemunculan punk adalah suatu bentuk resistensi terhadap budaya yang sudah mapan di Inggris. Punk berusaha menentang semua budaya mainstream yang dikuasai oleh borjuis dan melawan segala bentuk kapitalisme.
Apa yang dianggap kotor atau jelek oleh masyarakat dominan, maka oleh punk akan dianggap sesuatu yang baik dan layak. Seperti yang dikatakan oleh Dick Hebdige (1999:212) “Objek-objek yang paling kotor mendapat tempat dalam ansambel punk. Seperti peniti yang dikeluarkan dari konteks ‘utilitas’ domestiknya dan dikenakan sebagai ornament yang mengerikan di sekitar pipi, kuping atau bibir”. Sebagian punk memakai rantai, anting, gembok, sepatu boot atau sepatu militer yang merupakan bentuk perlawanan mereka terhadap kemapanan yang sudah ada.

3)    Punk sebagai bentuk perlawanan yang “hebat” karena menciptakan musik, gaya hidup, komunitas, dan kebudayaan sendiri.

Punk telah mampu menciptakan budaya sendiri dengan membentuk sebuah bangunan budaya baru atau subkultur bagi para pemuda. Budaya yang diciptakan oleh punk merupakan budaya yang melawan budaya mainstream. Sebagai budaya resistensi, punk cenderung disebut sebagai counter culture terhadap budaya mainstream. Budaya mainstream disini adalah budaya yang menguasai arus dominan yang sudah disepakati oleh umum baik dalam hal musik, fashion, gaya hidup maupun perilaku.

Budaya punk hanya berlaku bagi komunitas mereka sendiri. Punk tidak menyukai bila ada orang yang dari luar komunitas dengan sengaja meniru atau mengenakan segala atribut dan aksesoris yang menjadi identitas punk. Apabila budaya dan gaya hidup punk telah disamai atau diimitasi oleh masyarakat umum, maka punk akan berusaha menciptakan budaya baru yang lain agar terlihat berbeda dengan budaya yang sudah ada.

Jadi definisi punk menurut Craig O Hara mencakup 3 hal yaitu : pertama punk sebagai trend remaja dalam fashion dan musik, kedua punk sebagai keberanian memberontak dan melakukan perubahan, dan pengertian ketiga punk sebagai bentuk perlawanan yang “hebat” karena menciptakan musik, gaya hidup, komunitas, dan kebudayaan sendiri. Ketiga definisi yang diungkapkan oleh Craig O Hara ini telah memberikan gambaran mengenai punk yang lebih menyeluruh.
Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Artikel / Gaya Hidup / Unek-unek dengan judul Punk sebagai Budaya Tandingan (Counter Culture). Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://tulisendw.blogspot.com/2010/06/punk-sebagai-budaya-tandingan-counter.html. Terima kasih!
.::Artikel Menarik Lainnya::.