Blog Tentang Artikel, Makalah, Tips, dll

Tentang Qoidah Kesulitan dan Kemudahan

Qoidah ini adalah cabang dari qoidah “arah-arah yang terdapat suatu hukum yang didalamnya terdapat beberapa tujuan. Qoidah tersebut adalah qoidah yang pokok atau mendasar yang dibagi menjadi beberapa cabang-cabang ilmu fiqh yang banyak jumlahnya dan ibarat dari qoidah tersebut.
Dengan qoidah “ Di hukumnya wajib sarana-sarana yang menghubungkan, mengikut pada dihukuminya wajib tujuan-tujuan tersebut. Dan sesuatu yang membuat perkara wajib itu tidak sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu tersebut dihukumi wajib.
Tuntutan pertama : Qoidah ini dengan batasan-batasan yang menghilangkan keumuman, berupa perkara yang menjaga qoidah tersebut.

Qoidah Kesulitan dan Kemudahan

Diibaratkan akal adalah tempat bergantungnya beban hukum, amal adalah tempat bergantungnya hitungan/ukuran, arah bicara Syari’(Allah dan Rosul) kepada mukallaf terkadang bercampur dengan sesuatu yang menurutnya dirasa berat untuk dilakukan.
Pengertian “kesulitan” secara lughot adalah sulit mengangkat sesuatu, dan secara istilah berarti isim benda dari kesulitan,makna ini lebih umum.
Qoidah ini bersumber dari 5 Qoidah yang inti, meliputi ruang lingkup ilmu fiqh, pandangan Ulama’, agungnya hal ini condong pada Imam Syafi’I dengan qoulnya berupa; “Lalat yang jatuh kedalam air yang sedikit, dan keterangan ini mendekati pada Qoidah “Kondisi Dlorurot  memperbolehkan akan suatu hal yang haram”. “Kesulitan” ada 2 macam; tidak keluar dari ibadah dan keluar dari ibadah.
Percabangan dari qoidah ini meliputi tentang kebodohan termasuk udzur, adakalanya bodoh itu di ampuni kadang tidak. Dengan batasan; bodoh yang diampuni adalah bodoh yang termasuk udzur yang bukan hal biasa, jika hal  tersebut tidak dirasa sulit, maka tidak bisa diampuni.

Qoidah Kondisi Dlorurot Memperbolehkan Perkara Haram

Keharaman yang dimaksudkan adalah keharaman dilihat dari sifatnya dan sebabnya. Dan Dlorurot yang dimaksudkan adalah memperhitungkan kemashlahatan umat dan siksa suatu kerusakan.
Dengan adanya ketentuan “Hukum asalnya adalah melihat sedikit banyaknya siksa atau pahala dan sedikit banyaknya manfa’at atau kerusakan yang ditimbulkan”. Tingkatan kesulitan dalam menghasilkan suatu perkara yang diperintahkan itu harus memberi tambahan pahala.
Titik pangkal dari qoidah ini adalah dimana pahala bergantung pada manfa’at apa yang dihasilkan dari kerja keras yang dilakukannya. Sesungguhnya pahala diperhitungkan pada kemshlahatan dari apa yang dikerjakannya bukan dari seberapa sulitnya.
Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Artikel dengan judul Tentang Qoidah Kesulitan dan Kemudahan. Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://tulisendw.blogspot.com/2011/02/tentang-qoidah-kesulitan-dan-kemudahan.html. Terima kasih!
.::Artikel Menarik Lainnya::.